Kamis, 17 April 2014

Proses penulisan Skenario

PROSES KREATIF
PENULISAN
SKENARIO FILM PENDEK

Film adalah media MULTIDIMENSI yang bisa menembus ruang dan waktu. Lewat film, kita bisa menyampaikan banyak hal, tentang warna-warni problem kehidupan, soal impian manusia, soal budaya yang tergerus dinamika jaman, human interes berupa kritik sosial, maupun  profil manusia lewat carakter yang dimainkan oleh pemain yang terlibat dalam produksi film. Menariknya “pesan” yang disampaikan pada Film, bisa mempengaruhi penonton bahkan tidak sedikit orang yang ter-inspirasi setelah melihat sebuah film, tanpa mengenal batasan waktu.
Film adalah media VISUAL dan VERBAL, ada 3 tahapan pembuatan Film, yaitu Pra Produksi yang meliputi research cerita, penulisan naskah/Skenario, Produksi yang meliputi Shoting (pengambilan gambar) dan Pasca Produksi, yang meliputi proses Editing (penggabungan gambar), pengisian ilustrasi musik dsb. Masing-masing tahapan dalam pembuatan Film punya tugas yang sama, yaitu bagaimana cerita dan pesan dalam Film tsb sampai pada penonton.
Skenario adalah “blueprint” sebuah produksi Film. Banyak kasus terjadi, sebuah film bagus dari sisi “ide cerita”, namun lemah dalam penulisan Skenario. Karena itu perlu dipahami tehnis penulisan skenario, agar “ide cerita” yang menarik bisa menghasilkan film yang optimal.
Tidak ada kata “SULIT” dalam penulisan Skenario selama kita memahami dan mengerti PROSES KREATIFNYA.
Pada Workshop kali ini, saya akan putarkan beberapa Film Pendek sebagai bahan diskusi, kita kupas lebih detil, kelebihan dan kekurangan dari Film Pendek tsb lantas kita bahas Proses Kreatif Penulisan Skenarionya setelah Praktik Langsung peserta Workshop...
----
3 ELEMEN PENYUSUNAN SKENARIO
1.      IDE CERITA
Ide Cerita adalah step awal penulisan sebuah Skenario.
Kita akan bahas bagaimana caranya menggali sebuah “Ide Cerita” agar bisa menjadi cerita yang menarik dan layak untuk dijadikan sebuah cerita Film?
2.      SINOPSIS
Sinopsis adalah sebuah ringkasan cerita.
Kita akan membahas sebuah “ide cerita” yang telah kita tentukan, kemudian kita kembangkan menjadi sebuah sinopsis dengan segala aspek pelengkapnya, mulai dari carakterisasi penokohan, latar belakang cerita dsb.
3.      SCENEPLOT (TREATMENT)
Sceneplot/Treatment adalah penjabaran cerita dalam bentuk scene (adegan).
Kita akan bahas bagaimana membuat  “Sceneplot” dari acuan “Sinopsis” yang telah kita bikin. Mulai dari membuat OPENING (adegan pembuka cerita) yang menarik, dimana letak konfliknya, kapan saatnya PESAN MORAL kita tempatkan hingga ending cerita.

 




SKENARIO

Contoh Sinopsis Film

SINOPSIS
Indahnya Sebuah Perbedaan
Cerita/Skenario
Dwi Priyo Hariyanto

Kepindahan Agustinus di desa sumbersari rupanya memicu persoalan dengan sebagian warga yang tinggal disitu. Agustinus yang memeluk agama Kristen rupanya tidak disukai oleh mang Jaja yang dikenal penganut Islam garis keras dan punya komunitas, apalagi desa sumbersari selama ini dikenal sebagai desa yang penduduknya beragama Islam. Mang Jaja sontak memusuhi Agustinus dan keluarganya, ia bahkan berniat mengusir Agustinus dari kampung tsb namun niat mang Jaja selalu dihalang-halangi oleh Abah Sueb yang dikenal sebagai sesepuh desa dan seorang ulama. Abah Sueb berulangkali menginatkan mang Jaja soal toleransi antar umat beragama, namun mang Jaja dengan kelompoknya punya penafsiran lain. Masalah itu yang tidak pernah mencapai titik temu.

Agustinus sendiri bukannya tidak tahu sikap permusuhan yang diperlihatkan mang jaja dan kelompoknya, namun Agustinus selalu berpikir positif pada mang Jaja. Agustinus juga berusaha membaur dengan warga lainnya tanpa memandang perbedaan agama, tidak jarang Agustinus ikut membantu kerja bakti membetulkan mushola kecil milik abah Sueb.

Ketika Agustinus kedatangan tamu-tamunya sesama pemeluk agama Nasrani dan merayakan Natal dirumahnya dengan mengadakan kebaktian kecil, tiba-tiba rumah Agustinus di demo oleh mang Jaja dan kelompoknya. Mang Jaja dan kelompok berteriak-teriak mengusir Agustinus dan tamu-tamunya. Nyaris kejadian itu berubah dari aksi anarkis, beruntung warga desa lainnya dan abah Sueb datang menengahi dan berusaha melindungi Agustinus dan tamu-tamunya. Melihat jumlah warga desa yang melindungi Agustinus lebih banyak dari anggota kelompoknya, mang Jaja jadi berpikir kalo tindakannya selama ini rupanya tidak disukai oleh warga desa dan terbukti warga desa justru berusaha melindungi Agustinus.

Setelah melalui pertemuan di balai desa dengan di hadiri oleh aparat desa dan petugas penyuluh dari Dirjen HAM, mang Jaja akhirnya baru menyadari arti pentingnya sebuah toleransi antar umat beragama karena hal itulah hakiki semua ajaran agama.

Perbedaan itu adalah sebuah Keindahan, dan mang Jaja rupanya baru bisa melihat keindahan itu. ****